Manahan Pagi Ini

Aku berhenti sejenak di depan kolam dengan air yang memancar tenang, memecah permukaan menjadi riak-riak kecil yang tak pernah benar-benar diam. Di ujung sana, patung itu duduk tegak di atas pijakan tinggi, seperti seseorang yang telah lama memilih untuk melihat dunia dari kejauhan. Aku menatapnya cukup lama, seolah ia tahu sesuatu yang belum sempat kupahami.

Langit terbuka luas di atas, biru yang perlahan memudar, dengan awan-awan tipis yang tampak ringan tapi terasa jauh. Di sekeliling, pohon-pohon berdiri tanpa suara, menjadi latar yang setia bagi waktu yang terus berjalan. Air terus memancar, tidak terburu-buru, tidak juga berhenti, seperti mengajarkan bahwa bergerak pelan pun tetap berarti.

Aku berdiri di sana tanpa banyak alasan, hanya ingin memberi jeda pada langkah yang sejak pagi terus berjalan. Di antara air, langit, dan diam yang sederhana, aku merasa tidak perlu menjadi apa-apa selain seseorang yang sedang singgah. Dan mungkin, itu sudah cukup untuk hari ini.