Nadi Harapan

Tangan yang biasa menggenggam pena patah untuk melukis mimpi di atas kertas kusam, kini terbujur kaku di atas pembaringan dingin yang berbau antiseptik tajam. Di punggung tangan yang tak lagi halus ini, menempel plester putih kasar, berjuang menahan sebongkah tabung plastik kecil berwarna biru langit dengan katup-katupnya yang rumit. Dan di sanalah, sebuah selang bening menjuntai, membawa cairan merah marun yang kental, berdenyut pelan, bagai seekor ular naga kecil yang tengah mencari jalan pulang menuju jantungku.

Entah dari garis keturunan mana rasa sakit ini bermuara, yang jelas dia datang tanpa diundang, menerjang pertahananku bagai badai topan melanda pesisir Laut Jawa. Seakan tak puas hanya menggerogoti tubuh renta ini, dia pun mengikat tanganku dengan rantai plastik transparan, menjadikanku tawanan di negeriku sendiri. Aku menghela napas panjang, mengembuskan aroma kekalahan yang pahit di tenggorokan. Di kejauhan, sayup-sayup terdengar suara klakson mobil bersahutan, seakan mengejek keterpurukanku yang kini tak berdaya, terpasung oleh seutas selang kecil yang membawa kehidupan baru dalam wujud cairan.

Namun, di tengah kepungan rasa putus asa yang menyesakkan dada, aku mencoba mencari secercah cahaya di balik awan mendung yang menggelayut di langit hatiku. Cairan merah dalam selang itu, walau menakutkan, sesungguhnya adalah simbol harapan yang tak pernah padam. Dia adalah bukti bahwa kehidupan, sekecil apa pun bentuknya, akan selalu menemukan jalan untuk bertahan. Dan di sinilah aku, terduduk lesu di pembaringan dingin, dengan tangan terbelenggu selang plastik, namun mata tetap menatap lurus ke depan, ke arah masa depan yang belum terjamah, ke arah mimpi-mimpi yang masih terukir di atas kertas kusam, ke arah rumah yang selalu merindukan kepulanganku.