Begini cerita aku, dari atas perahu yang bergoyang pelan di denyut nadi Sungai Martapura ini. Langit masih tersaput mega kelabu, bersahaja seperti wajah-wajah para pedagang yang sudah bertumpuk di air. Suasana riuh rendah, bukan karena perkelahian, tapi karena harmoni tawar-menawar yang sudah jadi tradisi turun-temurun di Pasar Terapung Lokbaintan. Di depan mataku terhampar panggung sandiwara hidup, di mana air adalah panggung utamanya, dan jukung-jukung yang sarat beban adalah para pelakonnya. Aku terpana, seolah sedang menyaksikan keajaiban alam semesta yang tumpah-ruah di depan mata.
Di depanku duduk seorang gadis mungil yang bagiku lebih bersinar dari matahari pagi mana pun. Namanya Iliana. Matanya bulat, sarat rasa ingin tahu, dan senyumnya... ah, senyumnya seperti oase di padang pasir yang tandus. Dia duduk dengan anggun, bagai seorang putri raja di atas singgasana kayu. Sesekali tangannya yang mungil menunjuk ke arah buah-buahan atau kue-kue yang berjejer, dan matanya berbinar-binar seperti bintang di langit malam. Di dunia yang serba kacau ini, melihat kebahagiaan sederhana Iliana adalah obat yang paling ampuh.
Dan kau, jangan kau kira perahu kami ini biasa-biasa saja. Perahu kami adalah kapal harta karun yang terapung! Di bagian tengah, seperti harta karun yang baru ditemukan, berjejer keranjang-keranjang penuh buah: pisang emas yang kuning cerah, jambu air yang merah merekah, dan tumpukan jeruk nipis yang menyegarkan mata. Di bagian depan, lebih ajaib lagi, ada keranjang merah penuh kue-kue. Ada odading dan donat yang gemuk, mengundang selera, lengkap dengan jepitan merah yang seolah memanggil-manggil. Dan di sampingnya, gunungan onde-onde bertabur wijen yang tak kalah menggoda. Di sinilah kami, di tengah riuh rendah pasar, mengapung bersama harapan dan kekayaan bumi Kalimantan, dengan Iliana sebagai nakhodanya.