Malam di Banjarbaru merayap pelan, dibalut aroma tanah basah dan pendar lampu jalan yang temaram. Aku terduduk di kursi kayu Bigfat Steak, sebuah kancah kuliner yang riuh oleh denting pisau dan garpu. Di hadapanku, tersaji dua potong steak yang tampak begitu perkasa, lengkap dengan barisan buncis, jagung, dan gundukan kentang goreng yang sewarna dengan emas murni. Sungguh, sebuah kemewahan yang terasa ganjil namun menenangkan di tengah kesunyian kota yang sedang beristirahat ini.
Nana duduk di sampingku dengan kerudung biru gelapnya yang anggun, melengkungkan senyum setipis benang sutra. Di sebelahnya, Iliana, si kecil yang memiliki binar mata penuh selidik layaknya seorang pengelana muda, menatap kamera dengan jempol teracung tinggi, sebuah gestur kemenangan yang murni. Mereka berdua adalah representasi dari keajaiban-keajaiban kecil yang seringkali luput dari catatan sejarah, namun menjadi inti dari setiap helai napas yang kuembuskan di tanah Borneo ini.
Menyaksikan mereka menikmati potongan daging yang lembut itu, aku menyadari bahwa kebahagiaan bukanlah rumus fisika yang rumit atau deretan angka yang membosankan. Ia hanyalah sebuah momen sederhana di bawah rimbun dedaunan malam, di mana percakapan mengalir tanpa beban dan rasa lapar tuntas oleh kebersamaan.