Di sudut sunyi perpustakaan Tapin Rantau yang berwarna-warni, di mana dinding kuning menyala bagaikan mentari yang sedang beristirahat, dan pilar raksasa oranye-biru berdiri kokoh layaknya dua penjaga gerbang menuju dunia imajinasi, duduklah bidadari kecilku, Iliana.
Dia tak ubahnya peri kecil yang sedang menggelar perjamuan rahasia di tengah panggung yang diterangi cahaya lembut yang menyusup masuk. Dengan senyum tulus yang bisa meluluhkan hati siapa pun, jemari mungilnya menari-nari di antara balok-balok kayu warna-warni di atas meja kuning melengkung, seolah-olah dia sedang menyusun kunci untuk membuka pintu keajaiban alam semesta.
Meja kuning berbentuk bulan sabit itu menjadi meja perundingan perdamaian yang paling hangat, dikepung oleh tiga beruang mainan raksasa yang tampak berwibawa. Beruang cokelat pekat di kanan tampak seperti kepala suku yang bijak, menyimak setiap gerak-gerik peramal cilik kita, sementara beruang cream di tengah bersikap sopan dan sabar mendengarkan, dan si biru cerah di kiri, yang tampak paling antusias, seperti anak muda yang tak sabar ingin segera bergabung dalam permainan.
Mereka berempat, tiga beruang dan satu Iliana, terlihat begitu khusyuk, seolah sedang mendiskusikan masalah kedaulatan dunia boneka di bawah bimbingan buku-buku cerita yang bertumpuk rapi di samping mereka, jendela dunia yang siap terbuka lebar kapan pun dia mau.
Melihatnya tertawa tanpa beban, di tempat di mana ilmu pengetahuan dan mimpi-mimpi anak-anak bersekongkol, hatiku bagai ditiup angin segar dari pegunungan Meratus yang jauh. Pilar-pilar beton itu bukan sekadar penyangga gedung, tapi pilar-pilar harapan bagi masa depannya.
Dia adalah permata Tapin Rantau, putriku yang cerdas, yang sedang menenun takdirnya selangkah demi selangkah di antara tumpukan pengetahuan dan kehangatan teman-teman bonekanya. Inilah Iliana, anakku, di perpustakaan ini, di Kalimantan Selatan ini, yang sedang membuktikan bahwa keajaiban tidak harus selalu tentang sihir dan naga, melainkan tentang kemurnian masa kecil dan kekuatan imajinasi tanpa batas.