Pustaka Bermain

Inilah surga kecil kami di Rantau Tapin, perpustakaan yang lebih meriah dari pasar malam dengan dinding pelangi yang seolah mengejek kemurungan cuaca di luar. Di sinilah aku, sering termangu menyaksikan Iliana, gadis kecil yang pikirannya melesat jauh melampaui usianya yang rapuh, bergelut dengan tumpukan balok mainan kayu berwarna-warni di atas meja kuning melengkung. Bagi Iliana, balok-balok itu bukan sekadar benda mati, melainkan arsitektur mimpi, menara fantasi yang siap diruntuhkannya kembali hanya untuk merasakan debaran keajaiban dari penciptaan ulang.

Dia tak pernah sendirian. Di sampingnya setia meringkuk si "Bule", beruang mainan raksasa berwarna biru langit pudar yang bulunya sudah rontok di sana-sini tapi cintanya pada Iliana utuh seratus persen. Di tengah keheningan perpustakaan yang beradab, di mana rak-rak merah membara dan hijau zamrud itu menampung ribuan peradaban, hanya suara plek dan bruk dari balok mainan Iliana yang berani bersuara. Kadang aku merasa Iliana sedang mengajari si Bule tentang hukum gravitasi atau mungkin tentang keadilan, suatu hal yang bahkan perpustakaan semegah ini pun kadang gagal untuk mengajarkannya secara tuntas.

Aku sering duduk di seberangnya, di salah satu kursi kuning plastik yang tampak ringkih namun entah bagaimana mampu menahan berat beban pemikiranku. Aku memandangnya, lalu memandang tumpukan buku di rak, lalu kembali memandang Iliana. Ada korelasi ajaib antara keseriusan Iliana membangun menara baloknya dengan keseriusan manusia mengejar mimpi mereka. Dan di perpustakaan di Rantau Tapin ini, aku belajar bahwa semua arsitektur, baik itu dari balok mainan atau dari impian manusia, selalu bermula dari satu fondasi sederhana: keyakinan yang tak tergoyahkan, bahkan jika seluruh rak buku di perpustakaan ini rubuh menimpa kita.