Di bawah langit Rantau Baru yang biru cemerlang, sejernih air kolam yang berkilau di hadapan kami, aku berdiri bersama Iliana. Hari ini adalah hari terakhirnya di tanah rantau ini. Besok, sejauh mata memandang, rindu kami akan berlabuh kembali di pulau Jawa. Maka, kuajak dia ke sini, ke kolam ikan favoritnya di RTH Rantau Baru, tempat di mana dia sering tertawa renyah melihat ikan-ikan berkejaran.
Mentari mulai meninggi ketika langkah kami terhenti di sebuah pelataran luas dengan lantai berpola catur. Di sinilah, bertahun-tahun yang lalu, takdir mempertemukanku dengan Nana, ibu Iliana. Kenangan berputar di benakku, bayangan Nana yang tersenyum manis menjajakan Thai Tea dingin, menyegarkan dahaga di tengah teriknya matahari Kalimantan.
Langkah kaki mungil Iliana berayun riang menuju gedung Perpustakaan Umum Kabupaten Tapin. Matanya berbinar, memancarkan antusiasme yang tak terbendung. "Cepat, Bapak! Bluei sudah menunggu!" serunya, tak sabar ingin bertemu dengan boneka beruang biru kesayangannya yang selalu setia menemaninya di sudut baca anak.
Namun, harapan Iliana pupus saat kami tiba di pintu masuk perpustakaan. Pintu kaca besar itu terkunci rapat, tak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Rupanya, hari Jumat perpustakaan tutup lebih awal. Kekecewaan tergambar jelas di wajah Iliana, air matanya perlahan menetes membasahi pipinya yang kemerahan.
Aku tak tega melihat Iliana bersedih. Kuajak dia mengitari gedung perpustakaan, mencari celah untuk bisa melihat Bluei dari kejauhan. Untungnya, kami menemukan sebuah jendela kaca yang tak tertutup gorden. Melalui jendela itu, Bluei terlihat duduk manis di tempatnya yang biasa. Iliana berteriak kegirangan, melambaikan tangan kecilnya pada Bluei. "Sampai jumpa, Bluei! Aku akan merindukanmu!" serunya, dengan suara serak menahan tangis.
Menjelang senja, kuajak Iliana ke panggung terbuka. Di sinilah, Iliana pertama kali bisa berdiri sendiri dalam waktu yang cukup lama. Aku masih ingat betul betapa bangganya aku saat itu, melihat putri kecilku tumbuh menjadi anak yang mandiri dan berani. Di panggung ini, Iliana berdiri tegak, menatap masa depannya yang penuh dengan kemungkinan yang tak terbatas. "Bapak, aku akan menjadi anak yang hebat!" serunya, dengan penuh keyakinan.