Setelah lebih dari dua tahun purnama tak bersua, raga ini kembali menapak di tanah Borneo yang magis. Di bawah langit senja berwarna biru dongker yang kian pekat, Tugu di Simpang Empat Banjarbaru ini berdiri tegak layaknya seorang prajurit gagah yang tak kenal lelah menjaga pintu gerbang kota. Lampu-lampu hias yang melilit tubuhnya bersinar terang benderang, memancarkan rona merah dan biru yang berdansa ria, seolah ikut bersukacita menyambut kepulanganku.
Di kakinya, tulisan 'Welcome to Meratus Geopark' berwarna kuning kunyit menyala terang, mengundang siapa saja untuk segera menjelajahi keajaiban alam tersembunyi di balik perbukitan Meratus yang melegenda.
Aku menghela napas panjang, mengembuskan aroma kerinduan yang membuncah di dadaku. Rasanya baru kemarin aku menghirup udara bebas, menatap langit luas tanpa sekat, namun kini aku kembali terperangkap dalam lingkaran rasa kangen yang tak kunjung usai. Kendaraan-kendaraan bermotor lalu lalang dengan kencangnya, menciptakan simfoni hiruk pikuk kota yang tak pernah tidur.
Aku teringat masa-masa kecilku di Sukoharjo, di mana langit senja tak sebiru ini dan tugu setinggi ini adalah sebuah keajaiban yang hanya ada dalam mimpi. Namun di sini, di Kalimantan Selatan, mimpi-mimpi itu menjadi nyata dalam wujud tugu yang menjulang tinggi, menjulang ke arah langit biru yang cerah, ke arah masa depan yang penuh warna.