Iliana duduk di depanku, tangannya menjulur pelan ke arah keranjang kecil di atas meja merah. Matanya fokus, seolah dunia hanya berisi pilihan-pilihan kecil yang harus ia putuskan sendiri. Di hadapannya, gelas minuman berwarna lembut berdiri diam, seperti ikut menunggu keputusan sederhana yang baginya terasa penting.
Aku memperhatikannya tanpa banyak bicara, menikmati cara ia memandang setiap makanan di meja itu seperti penemuan baru. Gorengan tersusun rapi, tusuk-tusuk kecil berjejer, dan semua itu tampak lebih hidup ketika dilihat dari matanya. Ada kesabaran yang belum sempurna, ada rasa ingin yang jujur, dan di situlah aku belajar lagi tentang arti cukup.
Di belakangnya, orang-orang bergerak dengan urusan masing-masing, tapi bagiku, waktu kembali menyempit hanya pada satu meja ini. Iliana, dengan tangan kecilnya yang masih ragu-ragu, mengajarkanku bahwa kebahagiaan sering kali sesederhana memilih satu dari banyak hal, lalu menikmatinya tanpa terburu-buru.
Aku memperhatikannya tanpa banyak bicara, menikmati cara ia memandang setiap makanan di meja itu seperti penemuan baru. Gorengan tersusun rapi, tusuk-tusuk kecil berjejer, dan semua itu tampak lebih hidup ketika dilihat dari matanya. Ada kesabaran yang belum sempurna, ada rasa ingin yang jujur, dan di situlah aku belajar lagi tentang arti cukup.
Di belakangnya, orang-orang bergerak dengan urusan masing-masing, tapi bagiku, waktu kembali menyempit hanya pada satu meja ini. Iliana, dengan tangan kecilnya yang masih ragu-ragu, mengajarkanku bahwa kebahagiaan sering kali sesederhana memilih satu dari banyak hal, lalu menikmatinya tanpa terburu-buru.