Syekh Zayed

Sebuah kemegahan yang seolah turun langsung dari langit ke atas tanah Surakarta. Aku terpaku menatap dua menara putih yang menjulang tinggi, menusuk cakrawala yang sedang biru-birunya, biru yang begitu bersih tanpa noda awan sedikit pun. Di puncak menara itu, simbol bulan sabit berwarna emas berkilau tertimpa cahaya matahari, memberikan kesan bahwa di dunia yang fana ini, masih ada kemuliaan yang patut kita agungkan dengan penuh rasa syukur.

Dedaunan hijau dari pohon-pohon besar di pelataran masjid menari-nari ditiup angin sepoi, membingkai bangunan megah itu dengan keasrian yang menenangkan jiwa. Arsitektur bergaya Timur Tengah ini berdiri kokoh dengan dinding-dinding putih bersih dan lengkungan jendela yang estetis, menciptakan harmoni antara kekuatan beton dan kelembutan spiritualitas. Rasanya seperti sedang berada di negeri dongeng seribu satu malam, namun ini nyata, tepat di depan pelupuk mataku.

Aku melangkah perlahan di bawah naungan pohon palem, merasakan kedamaian yang merayap masuk ke dalam relung hati. Kubah-kubah kecil berwarna putih bersih menyembul di antara rimbunnya dedaunan, seakan malu-malu menunjukkan keindahannya. Di masjid ini, aku belajar bahwa seni bukan sekadar soal estetika, melainkan sebuah bentuk pengabdian yang paling tulus dari manusia untuk Sang Pencipta, sebuah manifestasi dari mimpi-mimpi besar yang akhirnya membumi di kota kecil yang kucintai.