Trans Snow World Surabaya

Aku berdiri di antara Iliana dan Nana, di hamparan salju buatan yang terasa seperti mimpi yang sengaja diwujudkan. Di belakang kami, manusia salju besar itu seolah menjadi saksi bahwa kebahagiaan bisa dibuat sederhana, cukup dengan tawa dan dingin yang menempel di ujung jari. Aku melambaikan tangan ke arah kamera, sambil menggenggam papan luncur biru, merasa seperti anak kecil yang baru saja menemukan cara lain untuk bahagia.

Iliana berdiri di depan kami, tubuh kecilnya terbungkus hangat, matanya menyimpan rasa penasaran yang tak habis-habis. Aku melihatnya, dan dalam sekejap aku lupa bahwa ini bukan salju sungguhan, karena caranya menikmati semuanya terasa begitu tulus. Nana merangkulnya dari samping, dan aku tahu, di antara dingin yang menggigit ini, ada hangat yang tidak bisa dibeli dari mana pun.

Di sekeliling kami, orang-orang sibuk dengan cara mereka sendiri untuk bersenang-senang, meluncur, tertawa, atau sekadar berjalan hati-hati di atas putih yang licin. Tapi bagiku, waktu seperti berhenti tepat di sini, di antara kami bertiga. Aku tidak butuh lebih dari ini, cukup Iliana, Nana, dan sore yang dingin yang diam-diam menghangatkan ingatan.