Ini dia Iliana, anak perempuanku yang bermata bening. Umurnya belum genap lima, tapi rasa ingin tahunya sudah membentang seluas samudera. Dia baru saja berlari, rambutnya kusut diembus angin sore yang masuk lewat celah-celah papan rumah kami, mengisahkan petualangan kecilnya di halaman yang gersang. Sekarang, ia berdiri tegak di ambang pintu tua, kakinya telanjang di atas tegel kusam. Di tangannya yang mungil, ia menggenggam sebuah wortel oranye, seperti menggenggam harta karun dari negeri khayalan. Di baju birunya yang lusuh, masih terbayang sisa petualangannya hari ini: bercak tanah di kerah baju, dan seekor kucing di kausnya yang sepertinya sedang ikut tersenyum.
Saat aku berdiri di ambang pintu, kulihat ia menatapku, matanya bersinar, tajam, dan penuh kehidupan. Ia tidak berkata apa-apa, tapi sorot matanya sudah merangkum ribuan pertanyaan tentang dunia. Wortel yang dia pegang sekarang ada di mulutnya, di ujung giginya, seperti sedang mengunyah rasa ingin tahu. Ada keraguan, ada rasa ingin tahu, tapi di balik itu semua, aku melihat tekad yang luar biasa. Ia sedang menjelajahi rasanya, tekstur dari wortel itu, seperti seorang penjelajah yang baru saja menginjakkan kaki di tanah yang belum pernah dikunjungi. Dan di momen inilah, aku sadar, kebahagiaan itu bukanlah tentang harta yang berlimpah, tapi tentang hal-hal sederhana seperti melihat putrimu tumbuh dan belajar, mengeksplorasi dunianya dengan caranya sendiri.
Di balik jendela itu, langit sore mulai meredup, menyisakan cahaya keemasan yang menerpa wajah Iliana. Wortel di tangannya semakin lama semakin kecil, dihabiskan dengan lahap. Dan aku tahu, kelak, rasa ingin tahu yang sama ini akan membawanya ke tempat-tempat yang lebih jauh, lebih menakjubkan dari sekadar halaman rumah kami. Tapi untuk saat ini, kebahagiaanku ada di sini, di ambang pintu tua ini, melihat Iliana, putri kecilku, yang sedang mengunyah wortelnya dengan semangat yang membara.