Siang itu aku membuka freezer dan melihat kantong-kantong daging memenuhi rak sampai nyaris tak menyisakan ruang. Udara dingin langsung menyentuh wajahku, membawa bau samar darah dan es yang membeku diam-diam. Di sudut kecil dapur rumah, semuanya tampak sederhana, tetapi aku tahu ada banyak kerja keras, banyak tenaga, dan banyak cerita hidup yang ikut tersimpan di balik plastik-plastik bening itu.
Aku memandangi daging-daging yang tersusun rapat sambil teringat suara orang-orang sibuk sejak pagi, pisau yang beradu pelan, ember yang dipindahkan, dan tangan-tangan yang bekerja tanpa banyak mengeluh. Hidup di rumah kadang memang tidak selalu romantis seperti cerita di film. Ada hari-hari yang dipenuhi lelah, bau amis, dan pekerjaan yang membuat punggung terasa patah. Namun justru dari hal-hal seperti itulah keluarga belajar bertahan bersama.
Freezer itu akhirnya kututup perlahan. Suara pintunya terdengar kecil, tetapi meninggalkan rasa hangat aneh di dada. Semakin dewasa, aku mulai mengerti bahwa rumah bukan hanya tempat untuk pulang, melainkan tempat di mana orang-orang saling menjaga dengan cara paling sederhana. Kadang bukan lewat kata-kata, melainkan lewat makanan yang disimpan baik-baik agar semua tetap bisa makan esok hari.