Buram

Malam itu jalanan tampak buram oleh cahaya lampu dan kendaraan yang melaju tergesa-gesa. Aku bersepeda sambil memandangi lampu merah mobil di depan yang perlahan menjauh, seperti beberapa orang dalam hidup yang pernah dekat lalu hilang tanpa sempat benar-benar pamit. Angin malam terasa dingin di wajah, membawa bau rumput basah, asap knalpot, dan suara-suara kecil dari keramaian yang mulai lelah.

Di pinggir jalan, orang-orang duduk berkelompok di bawah cahaya seadanya. Ada yang tertawa keras, ada yang hanya menunduk menatap layar ponsel, ada pula yang tampak diam memikirkan hidupnya sendiri. Dari jauh semuanya terlihat biasa saja, tetapi aku sadar setiap manusia sedang membawa bebannya masing-masing. Dan lucunya, dunia tetap berjalan cepat meski hati seseorang mungkin sedang hancur diam-diam malam itu.

Kendaraan terus melaju menembus gelap. Lampu-lampu jalan muncul lalu hilang seperti kenangan yang datang sebentar sebelum akhirnya larut kembali ke malam. Aku menarik napas panjang dan memandang lurus ke depan. Kadang hidup memang tidak memberi jalan yang terang sepenuhnya. Namun selama masih ada sedikit cahaya untuk diikuti, manusia akan terus bergerak, berharap di ujung perjalanan nanti ada tempat untuk pulang dan beristirahat dari segala lelah.