Cosan

Aku duduk di sudut kedai sambil memegang segelas kopi susu dingin yang warnanya mirip senja terlalu pucat. Es batu beradu pelan di dalam gelas, seperti percakapan kecil yang berusaha menghibur hari panjangku. Di sekelilingku orang-orang sibuk dengan laptop, tawa, dan obrolan tentang masa depan yang terdengar begitu yakin. Sedangkan aku hanya diam, memandangi logo kecil berbentuk rumah di gelas itu, lalu bertanya dalam hati: sebenarnya manusia paling ingin pulang ke mana?

Kafe ini ramai, tetapi anehnya tetap terasa sunyi. Barangkali karena setiap orang datang membawa pikirannya sendiri-sendiri. Ada yang datang untuk bekerja, ada yang datang untuk bertemu seseorang, ada pula yang mungkin hanya ingin lari sebentar dari hidup yang terlalu bising. Aku menyesap kopi perlahan. Rasanya manis, sedikit pahit, dan meninggalkan dingin di lidah, persis seperti beberapa kenangan yang tidak pernah benar-benar selesai.

Di meja-meja kayu itu aku tiba-tiba mengerti sesuatu: menjadi dewasa ternyata sering sesederhana belajar menikmati jeda. Tidak semua hari harus hebat, tidak semua perasaan harus dijelaskan. Kadang cukup duduk sendirian, memegang minuman dingin, mendengar suara orang asing bercakap-cakap di kejauhan, lalu membiarkan hati beristirahat sebentar dari segala hal yang terlalu dipikirkan.