Es Matcha

Aku memegang di tanganku sebuah menara beku berwarna hijau jade yang sepertinya ditarik dari kedalaman hutan yang belum tersentuh. Es krim itu, dengan putaran lembutnya yang kaku seperti ukiran marmer, tampak menantang panasnya ruangan yang pengap ini. Di balik tirai kebekuan itu, aku merasakan aroma teh yang kuat, pahit namun menenangkan, seperti kenangan akan masa lalu yang belum pernah kualami.

Di sekelilingku, kedai ini berdenyut dengan kehidupan yang bising dan berwarna pudar. Spanduk-spanduk iklan yang cerah menjajakan janji-janji manis yang tak terpenuhi, sementara bayang-bayang samar manusia berlalu-lalang seperti arwah yang tersesat di labirin ini. Semua itu terasa begitu jauh dan tidak nyata, kecuali kerucut es krim yang kupeluk ini, sebuah oasis dingin di tengah padang pasir kehidupan modern.

Aku menatap logo boneka kecil di kertas pembungkusnya, sebuah wajah ceria yang entah bagaimana terasa familiar, seolah-olah ia telah menungguku di sini sejak zaman leluhurku pertama kali menginjakkan kaki di tanah ini. Waktu seakan berhenti berputar, dan hanya ada keajaiban kecil dari es matcha ini, sebuah rahasia dingin yang siap untuk meleleh di lidahku, membawa serta segala kepedihan dan harapan dari ribuan tahun yang lalu.