Iliana berlari kecil di trotoar, langkahnya ringan seolah jalan panjang itu memang dibuat untuknya. Aku mengikutinya dari belakang, melihat punggung kecil itu menjauh lalu mendekat lagi dalam irama yang hanya ia pahami sendiri. Di antara deretan bangunan dan pohon, ia tampak seperti titik hidup yang bergerak di tengah hari yang terang.
Garis di lantai menjadi jalur yang ia pijak dengan sungguh-sungguh, seolah itu bukan sekadar penanda, melainkan permainan yang harus diselesaikan. Aku tidak memanggilnya, tidak juga mempercepat langkah. Ada kebahagiaan sederhana saat melihatnya menemukan dunianya sendiri di tempat yang biasa saja.
Di sepanjang jalan itu, orang-orang berjalan dengan urusan masing-masing, tapi bagiku, waktu hanya mengikuti langkah Iliana. Aku membiarkannya berlari sedikit lebih jauh, karena aku tahu, pada akhirnya ia akan tetap berada di jalur yang sama, di jalan yang sama, dan mungkin, di ingatan yang akan terus ingin kuulang.
Garis di lantai menjadi jalur yang ia pijak dengan sungguh-sungguh, seolah itu bukan sekadar penanda, melainkan permainan yang harus diselesaikan. Aku tidak memanggilnya, tidak juga mempercepat langkah. Ada kebahagiaan sederhana saat melihatnya menemukan dunianya sendiri di tempat yang biasa saja.
Di sepanjang jalan itu, orang-orang berjalan dengan urusan masing-masing, tapi bagiku, waktu hanya mengikuti langkah Iliana. Aku membiarkannya berlari sedikit lebih jauh, karena aku tahu, pada akhirnya ia akan tetap berada di jalur yang sama, di jalan yang sama, dan mungkin, di ingatan yang akan terus ingin kuulang.