Malam itu aku berdiri di bawah tenda kecil yang kainnya sudah robek di sana-sini, sambil memandangi abang penjual sempol yang sibuk mengaduk dagangannya. Lampu warung dan minimarket di seberang jalan memantulkan cahaya pucat ke aspal yang basah, membuat malam tampak lelah tetapi tetap hidup. Di pinggir jalan seperti itu, kota selalu terasa lebih jujur, tanpa banyak hiasan.
Aku memperhatikan tangan abang itu bergerak cepat, membolak-balik makanan dengan gerakan yang pasti, seolah tubuhnya sudah hafal ritme mencari nafkah bahkan tanpa perlu dipikirkan lagi. Orang-orang datang membeli, lalu pergi membawa plastik kecil dan obrolan singkat. Tidak ada yang benar-benar mengenal satu sama lain, tetapi untuk beberapa menit, kami dipertemukan oleh lapar yang sederhana dan malam yang sama panjangnya.
Angin malam masuk pelan dari jalan raya, membawa bau minyak goreng, asap kendaraan, dan sedikit rasa sepi yang anehnya menenangkan. Aku lalu sadar, hidup kadang bertahan bukan karena mimpi-mimpi besar, melainkan karena hal-hal kecil yang setia ada setiap hari, gerobak di pinggir jalan, makanan hangat tengah malam, dan orang-orang sederhana yang terus bekerja meski dunia sering kali terlalu keras pada mereka.