Aku berdiri menatap air yang jatuh lurus dari ketinggian, suaranya pecah di bawah menjadi kabut tipis yang tak pernah benar-benar diam. Di antara pepohonan yang rapat, air itu seperti satu-satunya hal yang berani bergerak tanpa ragu. Aku tidak berkata apa-apa, hanya membiarkan mataku mengikuti alirannya dari atas sampai hilang di batu-batu di bawah.
Langit di atas tampak kelabu, menggantung pelan di antara daun-daun yang saling bertaut. Cabang-cabang pohon membingkai pandanganku, seolah sengaja menjaga jarak antara aku dan sesuatu yang lebih besar dari sekadar pemandangan. Di bawah sana, sebuah jembatan kecil berdiri tenang, menghubungkan sisi yang satu dengan sisi lainnya tanpa banyak suara.
Aku tetap di tempatku, membiarkan waktu berjalan seperti air yang tak pernah berhenti itu. Tidak ada yang perlu dikejar, tidak ada yang harus dipercepat. Di hadapan air yang terus jatuh, aku merasa cukup menjadi seseorang yang hanya melihat, tanpa perlu mengerti semuanya.
Langit di atas tampak kelabu, menggantung pelan di antara daun-daun yang saling bertaut. Cabang-cabang pohon membingkai pandanganku, seolah sengaja menjaga jarak antara aku dan sesuatu yang lebih besar dari sekadar pemandangan. Di bawah sana, sebuah jembatan kecil berdiri tenang, menghubungkan sisi yang satu dengan sisi lainnya tanpa banyak suara.
Aku tetap di tempatku, membiarkan waktu berjalan seperti air yang tak pernah berhenti itu. Tidak ada yang perlu dikejar, tidak ada yang harus dipercepat. Di hadapan air yang terus jatuh, aku merasa cukup menjadi seseorang yang hanya melihat, tanpa perlu mengerti semuanya.