Aku tidak memilih jalan ini. Jalan inilah yang memanggilku sore tadi, ketika hujan baru saja berhenti dan aspal masih menyimpan baunya yang hangat. Roda sepedaku berputar bukan karena kehendakku, melainkan karena semesta sedang berbicara melalui angin yang menerpa wajahku.
Di sisi kiri, ada saluran air yang mengalir diam-diam, seperti waktu yang terus bergerak tanpa meminta izin siapapun. Pohon-pohon tua berdiri menyaksikanku lewat, dan aku tahu mereka telah menyaksikan ribuan jiwa lain yang juga pernah bingung tentang ke mana mereka harus pergi. Di sini, dalam kecepatan dan kebasahan ini, aku justru merasa paling diam.
Jauh di ujung jalan, ada seseorang yang juga melaju. Aku tidak tahu siapa dia, dan dia tidak tahu siapa aku. Tapi mungkin itulah rahasia perjalanan yang selalu luput dari perhatian kita: kita semua sedang menuju sesuatu yang belum kita ketahui namanya, dan keberanian kita adalah terus mengayuh meski tujuan itu masih kabur di kejauhan.
Di sisi kiri, ada saluran air yang mengalir diam-diam, seperti waktu yang terus bergerak tanpa meminta izin siapapun. Pohon-pohon tua berdiri menyaksikanku lewat, dan aku tahu mereka telah menyaksikan ribuan jiwa lain yang juga pernah bingung tentang ke mana mereka harus pergi. Di sini, dalam kecepatan dan kebasahan ini, aku justru merasa paling diam.
Jauh di ujung jalan, ada seseorang yang juga melaju. Aku tidak tahu siapa dia, dan dia tidak tahu siapa aku. Tapi mungkin itulah rahasia perjalanan yang selalu luput dari perhatian kita: kita semua sedang menuju sesuatu yang belum kita ketahui namanya, dan keberanian kita adalah terus mengayuh meski tujuan itu masih kabur di kejauhan.