Pagi itu langit seperti baru dicuci ibu-ibu kampung dengan sabun paling biru. Aku mengayuh pelan di pelataran keraton yang lengang, sementara angin membawa bau debu, kayu tua, dan sedikit kenangan yang tak bisa kusebut namanya. Di depan bangunan bercat hijau kebiruan itu, aku merasa kecil sekali, seperti anak kampung yang diam-diam masuk ke halaman sejarah dan takut suaranya mengganggu para leluhur.
Tanganku menggenggam setang sepeda erat-erat. Bel ungu kecil di dekat ibu jari memantulkan cahaya matahari, lucu sekali, seperti permen yang ditempel di mesin waktu. Aku melihat seorang pengendara motor melintas santai, mobil tua berjalan pelan, dan seseorang berdiri di kejauhan seolah sedang menunggu seseorang yang tak kunjung pulang. Kota ini bergerak lambat, tetapi justru di situlah keajaibannya: ia membuat hatiku yang biasanya gaduh mendadak jinak.
Aku terus mengayuh tanpa benar-benar tahu hendak pergi ke mana. Kadang manusia memang begitu, pikirku. Kita berangkat bukan karena tahu tujuan, melainkan karena percaya jalan akan mengajari sesuatu. Dan pagi itu, di bawah langit yang bening dan halaman luas yang nyaris kosong, aku merasa hidup tidak perlu selalu terburu-buru. Ada hari-hari yang cukup dijalani seperti mengayuh sepeda: pelan, seimbang, lalu menikmati angin.
Tanganku menggenggam setang sepeda erat-erat. Bel ungu kecil di dekat ibu jari memantulkan cahaya matahari, lucu sekali, seperti permen yang ditempel di mesin waktu. Aku melihat seorang pengendara motor melintas santai, mobil tua berjalan pelan, dan seseorang berdiri di kejauhan seolah sedang menunggu seseorang yang tak kunjung pulang. Kota ini bergerak lambat, tetapi justru di situlah keajaibannya: ia membuat hatiku yang biasanya gaduh mendadak jinak.
Aku terus mengayuh tanpa benar-benar tahu hendak pergi ke mana. Kadang manusia memang begitu, pikirku. Kita berangkat bukan karena tahu tujuan, melainkan karena percaya jalan akan mengajari sesuatu. Dan pagi itu, di bawah langit yang bening dan halaman luas yang nyaris kosong, aku merasa hidup tidak perlu selalu terburu-buru. Ada hari-hari yang cukup dijalani seperti mengayuh sepeda: pelan, seimbang, lalu menikmati angin.