Kuda Kuning Ceria

Di sudut warung makan itu, Iliana tertawa sambil menaiki kuda-kudaan kuning yang bergerak naik turun dengan suara mesin tua. Aku berdiri tak jauh darinya sambil memperhatikan matanya yang berbinar, seolah ia benar-benar sedang menunggang kuda menuju negeri dongeng. Anak-anak memang punya bakat luar biasa untuk mempercayai kebahagiaan sekecil apa pun.

Lampu-lampu warung menyala terang, orang-orang lalu lalang, dan suara musik terdengar dari segala arah. Namun di tengah semua keributan itu, tawa kecil anak itu terasa lebih hidup daripada semuanya. Kadang dunia orang dewasa terlalu sibuk mengejar hal besar sampai lupa bahwa bahagia bisa sesederhana permainan lima menit.

Aku tersenyum sendiri melihatnya tertawa tanpa beban. Dulu aku juga pernah sebahagia itu hanya karena mainan kecil dan lagu yang berulang-ulang. Namun semakin besar, manusia makin sulit merasa cukup. Dan malam itu aku diam-diam iri pada anak kecil yang masih percaya dunia adalah tempat yang menyenangkan.