Di kursi kecil di belakang mobil itu, Iliana tertidur dengan wajah setenang doa ibu selepas magrib. Kepalanya miring sedikit, rambutnya berantakan lucu, dan napasnya naik turun pelan seperti ombak kecil di pantai yang jauh. Aku memandanginya diam-diam sambil berpikir: barangkali beginilah rupa damai yang sesungguhnya; sederhana, polos, dan tidak sibuk menjelaskan apa-apa.
Di tangannya masih tergenggam benda kecil yang entah tadi dimainkan dengan penuh semangat. Anak-anak memang begitu; mereka bisa tertawa keras lalu tertidur tiba-tiba, seolah dunia tidak pernah memberi alasan untuk takut. Aku iri pada cara mereka mempercayai hidup sepenuhnya. Tidak menyimpan cemas tentang hari esok, tidak memikirkan omongan orang, tidak sibuk mengejar sesuatu yang bahkan belum tentu membuat bahagia.
Mobil terus berjalan perlahan di bawah cahaya sore yang masuk lewat jendela belakang. Aku memandangi wajah kecil itu lebih lama, lalu hatiku mendadak hangat. Mungkin manusia tumbuh dewasa bukan karena kehilangan mimpi, melainkan karena perlahan lupa bagaimana caranya tidur setenang anak kecil, percaya bahwa selama ada seseorang yang menjaga di dekatnya, dunia akan baik-baik saja.