Malam itu aku berdiri di balkon sambil memandangi lampu-lampu kecil yang menyala di bawah sana. Dari kejauhan, tempat itu tampak seperti desa rahasia yang sengaja disembunyikan dari hiruk-pikuk dunia. Angin malam turun pelan dari pepohonan, membawa dingin yang lembut dan suara jangkrik yang samar. Ada jenis kesunyian tertentu yang justru membuat hati terasa lebih penuh.
Aku memandangi jalur lampu yang membelah taman seperti garis nasib yang ditarik perlahan oleh tangan semesta. Mungkin di bawah sana ada orang-orang yang sedang jatuh cinta, sedang tertawa bersama keluarga, atau sedang diam-diam menyembuhkan luka yang tidak diketahui siapa-siapa. Tempat-tempat indah memang sering menjadi tempat manusia menyimpan perasaannya tanpa banyak bicara.
Aku lalu sadar, semakin dewasa, aku semakin menyukai malam yang tenang daripada keramaian yang terlalu bising. Sebab dalam gelap yang damai seperti itu, manusia bisa mendengar isi kepalanya sendiri dengan lebih jelas. Dan kadang, itu lebih penting daripada segala hiburan di dunia.