Lampu Persimpangan

Malam itu aku berhenti di lampu merah dengan jalanan yang hampir kosong. Lampu lalu lintas menyala terang di tengah gelap, seperti satu-satunya orang yang masih terjaga ketika kota mulai lelah. Angin malam terasa dingin, sementara suara kendaraan lewat terdengar jauh dan sebentar, seperti percakapan manusia dewasa yang makin hari makin singkat.

Aku berdiri diam cukup lama memandangi lampu merah yang belum berubah hijau. Dulu aku selalu membenci menunggu. Aku ingin semua berjalan cepat, semua segera sampai pada tujuan. Namun hidup perlahan mengajariku bahwa tidak semua jeda adalah hukuman. Ada berhenti yang justru menyelamatkan manusia agar tidak tersesat terlalu jauh.

Ketika lampu hijau akhirnya menyala, jalan di depanku kembali terbuka. Aku menarik napas panjang lalu melaju perlahan ke arah malam yang lebih sunyi. Dan di persimpangan itu aku mengerti, hidup mungkin memang penuh lampu merah, tetapi selama kita masih mau sabar menunggu, selalu ada saat ketika jalan kembali memberi izin untuk melanjutkan perjalanan.