Malam di kota itu selalu tampak seperti pesta kecil yang dipaksakan untuk terus hidup. Lampu-lampu jalan menyala terlalu terang, pedagang kaki lima memanggil pembeli dengan suara setengah lelah, dan motor-motor melintas seperti kawanan kunang-kunang yang kehilangan arah. Aku duduk diam di kendaraan yang melaju perlahan, memandangi jalan basah oleh cahaya, sambil merasa ada bagian dari diriku yang tertinggal entah di mana.
Di kiri jalan, tenda-tenda makanan berdiri rapat seperti sahabat lama yang tak pernah benar-benar akur tetapi selalu bersama. Bau sate, kopi, dan asap knalpot bercampur jadi satu; anehnya, justru itulah aroma paling jujur dari kehidupan kota. Aku melihat orang-orang tertawa, beberapa sibuk menatap layar ponsel, beberapa lainnya terburu-buru pulang. Dan di tengah keramaian itu, aku sadar: kesepian ternyata tidak selalu datang dari sepi. Kadang ia hadir justru ketika semua orang terlihat bahagia.
Kendaraan terus melaju membelah jalan lurus yang seperti tak ada ujungnya. Angin malam menerpa wajahku, membawa dingin yang tipis-tipis menusuk dada. Aku lalu teringat satu hal sederhana yang sering kulupakan: hidup mungkin memang tidak selalu memberi tempat untuk berhenti lama-lama. Kadang kita hanya perlu terus berjalan, menikmati lampu-lampu yang lewat, lalu percaya bahwa di ujung perjalanan nanti ada seseorang, atau sesuatu, yang akhirnya membuat semua lelah ini terasa masuk akal.
Di kiri jalan, tenda-tenda makanan berdiri rapat seperti sahabat lama yang tak pernah benar-benar akur tetapi selalu bersama. Bau sate, kopi, dan asap knalpot bercampur jadi satu; anehnya, justru itulah aroma paling jujur dari kehidupan kota. Aku melihat orang-orang tertawa, beberapa sibuk menatap layar ponsel, beberapa lainnya terburu-buru pulang. Dan di tengah keramaian itu, aku sadar: kesepian ternyata tidak selalu datang dari sepi. Kadang ia hadir justru ketika semua orang terlihat bahagia.
Kendaraan terus melaju membelah jalan lurus yang seperti tak ada ujungnya. Angin malam menerpa wajahku, membawa dingin yang tipis-tipis menusuk dada. Aku lalu teringat satu hal sederhana yang sering kulupakan: hidup mungkin memang tidak selalu memberi tempat untuk berhenti lama-lama. Kadang kita hanya perlu terus berjalan, menikmati lampu-lampu yang lewat, lalu percaya bahwa di ujung perjalanan nanti ada seseorang, atau sesuatu, yang akhirnya membuat semua lelah ini terasa masuk akal.