Sore itu aku berdiri di depan rumah sambil memegang sepiring nasi hangat, telur dadar, dan mandai khas Kalimantan Selatan yang aromanya langsung membuat perutku lupa pada lelah seharian. Jalanan di depan rumah belum terlalu ramai, hanya sesekali suara motor lewat dan angin sore yang membawa bau tanah serta asap dapur tetangga. Langit perlahan berubah warna, sementara aku berdiri diam menikmati momen sederhana yang entah kenapa terasa begitu menenangkan.
Aku menyuap mandai itu perlahan. Rasanya khas sekali, asin, sedikit asam, dan menyimpan rasa yang sulit dijelaskan kalau belum pernah mencobanya sendiri. Ada sesuatu dari makanan rumahan yang selalu mampu membuat hati terasa pulang, seolah setiap gigitan membawa kembali kenangan tentang dapur, keluarga, dan masa kecil yang berjalan pelan. Dulu aku sering menganggap makanan seperti ini biasa saja. Namun semakin dewasa, aku mulai sadar bahwa tidak semua orang beruntung memiliki rasa yang bisa mengingatkan mereka pada rumah.
Di depan rumah itu, dengan piring bunga sederhana di tangan, aku tiba-tiba merasa hidup tidak perlu terlalu rumit untuk bisa dinikmati. Kadang bahagia cukup sesederhana sore yang tenang, makanan hangat, dan sedikit waktu untuk berhenti memikirkan hal-hal yang terlalu jauh. Sebab pada akhirnya, manusia selalu kembali mencari hal yang paling sederhana, rasa nyaman yang membuatnya ingin tinggal lebih lama di rumahnya sendiri.