Maxride

Siang itu aku duduk di bangku belakang sebuah kendaraan kecil yang berisik, sambil memandangi punggung sopir yang kausnya bertuliskan tentang komunitas Vespa. Jalanan macet seperti biasa; mobil-mobil berhenti dengan wajah lelah, klakson terdengar seperti orang-orang yang kehilangan kesabaran sejak pagi. Namun anehnya, dari dalam kendaraan sederhana itu, kota terasa lebih manusiawi. Aku bisa melihat wajah-wajah pengendara, pohon-pohon di pinggir jalan, dan langit yang terselip malu-malu di antara kabel-kabel kota.

Sopir itu tidak banyak bicara. Ia hanya sesekali melirik kaca kecil di depannya, lalu kembali fokus pada jalan. Tapi dari caranya mengemudi pelan dan hati-hati, aku merasa ia mungkin juga sedang memikirkan sesuatu, barangkali cicilan, anak di rumah, atau sekadar ingin cepat pulang sebelum hujan turun. Kadang aku merasa orang-orang yang bekerja di jalanan adalah filsuf paling diam. Mereka melihat begitu banyak manusia datang dan pergi, tanpa pernah benar-benar ikut tinggal di hidup siapa pun.

Kendaraan itu terus bergerak perlahan di tengah kemacetan. Angin masuk dari samping, membawa bau asap, panas aspal, dan sedikit rasa bebas. Aku lalu sadar, perjalanan paling berkesan sering kali bukan tentang kendaraan mewah atau tujuan yang jauh. Kadang hanya tentang duduk di belakang kendaraan kecil, memandangi punggung orang asing, lalu merasa bahwa hidup ini, meski semrawut dan melelahkan, tetap layak dijalani sampai ujung jalan.