Malam itu kafe terasa hangat seperti ruang tamu yang dipinjamkan untuk orang-orang lelah. Lampu-lampu kuning menggantung rendah, aroma kopi bercampur suara sendok dan percakapan pelan. Di depanku, Iliana duduk serius menatap layar tablet, seolah dunia di dalam benda kecil itu jauh lebih penting daripada ramainya manusia dewasa di sekitarnya. Aku memandanginya sambil tersenyum kecil. Anak-anak sekarang tumbuh bersama cahaya layar, sementara kami dulu tumbuh bersama suara jangkrik dan televisi yang antenanya sering goyang.
Di atas meja, minuman berwarna-warni berdiri seperti tokoh-tokoh kecil dengan kepribadiannya masing-masing. Ada kopi susu yang lembut dan tenang, ada minuman merah yang mencolok seperti anak kecil yang tidak bisa diam, dan ada segelas air dengan daun mint yang tampak sederhana tetapi menenangkan. Aku menyeruput kopi perlahan sambil memandangi Iliana sesekali tertawa sendiri. Dan anehnya, melihat kebahagiaan kecil seperti itu membuat hatiku ikut ringan.
Aku lalu sadar, hidup mungkin memang berubah terlalu cepat. Teknologi datang, cara bermain berubah, dan manusia makin sibuk dengan dunianya masing-masing. Tetapi ada satu hal yang tetap sama sejak dulu: kebersamaan kecil di meja makan atau kafe sederhana selalu punya cara untuk membuat manusia merasa pulang. Kadang bahagia tidak perlu perjalanan jauh. Cukup duduk bersama orang yang kita sayang, ditemani minuman dingin dan malam yang berjalan pelan-pelan.