Nyah Lemu

Aku berhenti di depan Keda Kopi itu. Lampion-lampion merah bergantung tenang di bawah atap kayu, seperti dua bulan kecil yang lupa pulang ke langit. Cat hijau kebiruan di pintu dan jendelanya tampak pudar dimakan waktu, tetapi justru di situlah letak keindahannya. Ada tempat-tempat yang tidak perlu terlihat baru untuk terasa hangat; ia cukup menyimpan kenangan dengan baik.

Aku berdiri beberapa saat di depan pagar besi bermotif itu, membayangkan berapa banyak orang yang pernah keluar-masuk membawa cerita masing-masing. Mungkin ada tawa keluarga saat makan malam, mungkin ada percakapan pelan tentang rindu, mungkin juga ada seseorang yang pernah duduk sendirian di dalam sana sambil menunggu kabar yang tak kunjung datang. Rumah-rumah tua selalu membuatku percaya bahwa dinding pun bisa menyimpan perasaan manusia.

Angin sore bergerak perlahan, membuat lampion itu bergoyang kecil seperti sedang berbisik satu sama lain. Aku tersenyum sendiri. Kadang perjalanan tidak selalu tentang tempat yang megah atau ramai. Ada kalanya hati justru tersentuh oleh sudut kecil kota yang sederhana, yang membuat kita berhenti sejenak lalu sadar: hidup ini ternyata dibangun dari hal-hal kecil yang diam-diam mampu menetap lama di ingatan.