Pagi itu jalanan ramai oleh suara pedagang, anak-anak kecil, dan sepeda yang lewat perlahan di bawah langit biru. Di tengah keramaian itu Iliana tersenyum sambil memperlihatkan hewan kecil di tangannya dengan bangga, seolah ia baru saja menemukan harta karun paling berharga di dunia. Aku memandang wajahnya yang cerah dan mendadak merasa pagi menjadi lebih hangat.
Di sekelilingnya orang-orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada ibu-ibu yang berjalan sambil membawa tas belanja, ada anak kecil lain yang penasaran mendekat, dan ada suara tawar-menawar dari kejauhan. Tetapi Iliana tetap berdiri dengan senyum lebar, tanpa peduli dunia sedang seberapa sibuk. Anak-anak memang punya kemampuan ajaib untuk menikmati hari tanpa banyak rasa takut.
Aku lalu teringat masa kecilku sendiri, ketika kebahagiaan datang dari hal-hal sederhana yang bahkan tidak bisa dijelaskan logika orang dewasa. Kini manusia tumbuh besar dan mulai sibuk mengejar banyak hal, sampai lupa cara merasa kagum pada dunia. Dan pagi itu, di pinggir jalan yang ramai, Iliana diam-diam mengajariku cara bahagia sekali lagi.