Senja turun pelan di ujung jalan ketika aku berhenti sebentar dengan sepeda di persimpangan itu. Langit masih menyisakan biru pucat, tetapi lampu-lampu jalan sudah mulai menyala seperti tanda bahwa hari perlahan menyerah pada malam. Tanganku menggenggam setang erat, sementara angin sore datang membawa bau aspal hangat dan suara kendaraan yang melintas terburu-buru menuju rumah masing-masing.
Aku memandangi jalan luas di depanku sambil diam cukup lama. Ada sesuatu tentang bersepeda saat senja yang selalu membuat hidup terasa lebih lambat dan lebih jujur. Tidak ada suara notifikasi, tidak ada tuntutan untuk segera sampai, hanya aku, jalanan, dan langit yang berubah warna sedikit demi sedikit. Kadang manusia memang perlu berhenti sebentar di tengah perjalanan, bukan untuk menyerah, tetapi untuk mengingat lagi alasan kenapa ia terus melaju.
Bel sepeda kecil berwarna ungu di setang itu menyala samar ketika langit makin gelap. Aku tersenyum sendiri. Semakin dewasa, aku mulai mengerti bahwa bahagia tidak selalu tentang tujuan besar. Kadang ia hanya berupa sore yang tenang, jalan yang belum terlalu ramai, dan kesempatan kecil untuk mengayuh lebih jauh sambil berdamai dengan isi kepala sendiri.