Pilist

Semangkuk mi hangat itu datang di saat tubuhku terlalu lelah untuk diajak berpikir panjang. Kuahnya mengepul pelan, membawa aroma bawang, kaldu, dan sesuatu yang anehnya terasa seperti rumah. Aku duduk diam di depan meja kayu sederhana itu, memandangi potongan ayam kecap yang bertumpuk di atas mi, sementara sayur hijau di pinggir mangkuk tampak segar seperti pagi di kampung. Ada makanan yang bukan cuma mengenyangkan perut, tetapi juga menenangkan hati yang kusut diam-diam.

Suapan pertama selalu punya sihirnya sendiri. Hangat kuahnya turun perlahan ke dada, seolah membereskan lelah yang sejak tadi berantakan di kepala. Di luar sana hidup mungkin ribut sekali, pekerjaan, harapan, orang-orang yang datang lalu pergi sesuka hati, tetapi di depan semangkuk mi sederhana, semuanya mendadak terasa lebih bisa ditoleransi. Barangkali manusia memang gampang bahagia; cukup diberi makanan enak dan sedikit waktu untuk berhenti terburu-buru.

Aku lalu teringat ibu di rumah. Tentang bagaimana ia selalu percaya bahwa makanan hangat bisa memperbaiki suasana hati seseorang. Dulu aku menganggap itu berlebihan. Namun semakin dewasa, aku mulai paham: beberapa rasa ternyata mampu menyembuhkan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan kata-kata. Dan siang itu, di depan mangkuk mi yang mengepul pelan, aku merasa dunia tidak sekejam yang kukira.