Pagi itu aku berdiri bersama puluhan orang di depan air terjun yang jatuh deras seperti langit sedang menumpahkan seluruh rindunya ke bumi. Kami mengenakan baju kuning yang sama, tertawa keras, saling memanggil nama, dan sibuk mengabadikan kebahagiaan yang sederhana. Kabut air beterbangan kecil-kecil di udara, membuat wajah kami basah dan hati terasa ringan.
Di tengah keramaian itu aku melihat sesuatu yang indah: manusia ternyata bisa begitu akrab meski datang dari cerita hidup yang berbeda-beda. Ada yang sudah beruban, ada yang masih muda, ada yang pendiam, ada yang tak berhenti bercanda. Tetapi di depan air terjun itu kami sama saja, sekumpulan manusia yang sebentar melupakan beban hidupnya demi tertawa bersama.
Aku memandangi aliran air yang terus jatuh tanpa lelah. Alam selalu punya cara untuk mengajari manusia tentang ketulusan. Ia tidak memilih kepada siapa kesejukan diberikan. Dan hari itu aku belajar, kebahagiaan paling tulus sering lahir bukan dari tempat mewah, melainkan dari perjalanan sederhana bersama orang-orang yang membuat kita merasa diterima.