Simpang Joglo

Malam itu jalanan lengang seperti halaman buku yang belum ditulisi apa-apa. Aku berjalan pelan di bawah lampu-lampu kota, sementara jembatan merah menyala di hadapanku tampak seperti urat nadi raksasa yang menghubungkan satu kesepian dengan kesepian lainnya. Angin malam berembus dingin, membawa bau beton, rumput basah, dan sedikit rasa asing yang entah kenapa justru membuatku nyaman.

Aku berhenti sejenak di tepi trotoar, memandangi rangka-rangka baja yang saling bersilang di atas sana. Jembatan itu tampak kokoh, padahal ia dibangun dari banyak bagian kecil yang saling menopang. Manusia mungkin begitu juga. Kita terlihat kuat dari jauh, padahal di dalam diri ada banyak retakan, banyak takut, banyak kenangan yang diam-diam bekerja keras agar hati ini tidak runtuh. Dan lucunya, sering kali justru malam yang membuat kita berani mengakui semuanya.

Tak ada kendaraan yang melintas cepat, tak ada suara gaduh selain desir angin dan dengung lampu jalan. Aku menarik napas panjang lalu melanjutkan langkah pelan-pelan. Di bawah cahaya merah jembatan itu aku tiba-tiba merasa hidup tidak harus selalu terang untuk terlihat indah. Kadang justru dalam gelap, manusia belajar melihat dirinya sendiri lebih jelas daripada sebelumnya.