Aku berdiri di dekat tungku tanah liat itu ketika senja belum sepenuhnya pergi. Tusuk-tusuk daging berjajar di atas bara, mengeluarkan suara kecil yang terdengar seperti bisikan orang tua yang sedang bercerita. Asapnya naik perlahan, membawa aroma yang sanggup membuat perut mengingat waktu makan.
Aku selalu percaya bahwa makanan bukan hanya soal rasa. Ia adalah cara paling sederhana untuk menyimpan kenangan. Di sela-sela lemak yang meleleh dan daging yang mengilap terkena panas, ada wajah-wajah keluarga yang pernah duduk melingkar, menunggu hidangan matang sambil bertukar kabar tentang hari yang panjang.
Ketika sate itu akhirnya matang, aku sadar bahwa kebahagiaan sering kali tidak datang dalam bentuk yang megah. Kadang ia hanya berupa bara yang menyala sabar, seikat tusuk sate, dan keyakinan bahwa hal-hal sederhana masih mampu membuat hati merasa pulang.