Kayuh Sore Hari

Aku melihat Iliana duduk tenang di kursi belakang sepeda. Di tangannya ada minuman kecil yang hampir habis, sementara matanya mengamati jalanan dengan rasa ingin tahu yang tak pernah benar-benar tidur. Anak-anak memang begitu, mereka bisa menemukan petualangan bahkan di gang yang setiap hari mereka lewati.

Di sampingnya, aku menyiapkan sepeda sebelum berangkat berkeliling sore. Memeriksa rem, memastikan kursinya kokoh, lalu melihat sekilas ke arahnya. Iliana menunggu dengan sabar, seolah percaya bahwa selama aku ada di depan kemudi, dunia akan baik-baik saja.

Sore itu tidak ada tujuan yang istimewa. Kami hanya ingin mengayuh di sekitar rumah, menyapa angin, dan melihat langit perlahan berubah warna. Namun ketika kulihat Iliana duduk di belakangku aeddengan tenang, aku merasa perjalanan sederhana xitu lebih berharga daripada banyak perjalanan jauh. Sebab kelak, yang akan diingat bukanlah ke mana kami pergi, melainkan bahwa kami pernah mengayuh bersama.