Di antara lampu-lampu malam dan deru mesin yang tak pernah benar-benar diam, kami berdiri sebentar sebelum perjalanan dimulai. Bus besar di belakang hanyalah kendaraan, tetapi malam itu ia menjadi penanda bahwa hidup selalu bergerak, membawa orang-orang menuju tujuan yang berbeda.
Aku tersenyum ke arah kamera, sementara Nana merapatkan pelukannya. Bukan karena takut berpisah, tetapi karena kami sudah mengerti satu hal sederhana: sejauh apa pun perjalanan membawa kami, rumah selalu kembali pada orang yang sama.
Di sekitar kami, orang-orang sibuk mengangkat barang, mencari kursi, berpamitan, atau menunggu. Namun dalam keramaian itu ada ruang kecil yang terasa tenang. Ruang yang tercipta ketika dua orang memilih untuk berjalan bersama, melewati hari-hari yang mudah maupun yang berat.