Lampu Persimpangan

Malam telah menyalakan seluruh lampunya ketika aku berhenti di sebuah persimpangan. Di depanku, jalan membentang panjang dengan kendaraan yang datang dan pergi seperti pikiran-pikiran yang tak pernah benar-benar selesai. Lampu merah menyuruhku menunggu, dan untuk sesaat aku menurut.

Dulu aku mengira hidup ditentukan oleh seberapa cepat kita bergerak. Semakin jauh, semakin baik. Namun bertambah usia mengajarkanku hal yang berbeda. Ada saatnya kita harus berhenti di tengah perjalanan, menarik napas, lalu membiarkan dunia melintas lebih dulu. Sebab tidak semua yang bergerak sedang menuju tujuan, dan tidak semua yang diam sedang tertinggal.

Aku memegang setang sepeda sambil memandangi cahaya-cahaya kota yang berkilau di kejauhan. Ketika lampu berubah hijau, aku tahu aku akan kembali mengayuh. Bukan karena jalan di depan pasti mudah, melainkan karena hidup selalu meminta keberanian yang sederhana, keberanian untuk terus melaju setelah berhenti sejenak.