Lembah Pandan

Hari itu kami berdiri di depan air yang jatuh tanpa lelah. Di belakang kami, tebing hijau menjulang seperti halaman buku tua yang ditumbuhi lumut. Aku memandangi wajah-wajah yang selama ini menjadi alasan pulang, orang tua, saudara, keponakan, dan Iliana yang berdiri paling depan dengan jarinya membentuk tanda damai, seolah dunia sedang baik-baik saja.

Semakin bertambah usia, aku mengerti bahwa keluarga bukan sekadar orang-orang yang memiliki nama belakang yang sama. Mereka adalah tempat kita kembali setelah kalah, tempat kita bercerita setelah menang, dan tempat kita diterima tanpa perlu menjelaskan terlalu banyak. Air terjun itu mengalir deras, tetapi waktu terasa berhenti sejenak ketika kami berkumpul dalam satu bingkai.

Aku tidak tahu berapa banyak foto yang akan kami ambil lagi di masa depan. Namun aku tahu, kelak ketika rambut mulai memutih dan langkah tak lagi secepat sekarang, aku akan melihat gambar ini dan teringat bahwa pernah ada satu sore di Lembah Pandan, ketika kebahagiaan hadir dalam bentuk yang sangat sederhana, berdiri rapat bersama keluarga sambil tersenyum ke arah kamera.