Mukena Pelangi

Aku menemukan sepotong langit di ruang yang sederhana itu. Bukan di jendela, bukan di awan, melainkan pada mukena merah muda yang dipakai Iliana. Di kainnya ada pelangi, bintang, dan matahari, seolah seseorang diam-diam memindahkan cuaca yang cerah ke atas selembar kain.

Aku memandangnya, lalu teringat bahwa masa kecil adalah negeri yang paling murah hati. Di sana, doa belum dibebani banyak permintaan. Anak-anak mengangkat tangan bukan karena takut kehilangan, melainkan karena percaya bahwa dunia memang baik kepada mereka.

Senyumnya kecil, hampir tak terlihat, tetapi cukup untuk membuat ruangan terasa lebih hangat. Saat itu aku mengerti, kadang harapan tidak datang dalam pidato yang panjang. Ia datang sebagai seorang anak kecil dalam mukena berwarna pelangi, yang mengajarkan bahwa iman bisa tumbuh dengan cara yang sangat sederhana.