Aku datang ke Selo ketika langit sedang murung. Awan-awan menggantung rendah di antara lereng, seperti surat lama yang belum selesai dibaca. Orang-orang biasanya mencari matahari saat bepergian, tetapi aku justru menemukan keindahan pada cuaca yang tampak ragu-ragu itu.
Di depanku berdiri dua perempuan yang berarti dalam hidupku. Yang satu menggenggam masa kini, yang satu lagi adalah masa depan yang sedang belajar menyebut nama-nama dunia. Di hadapan tulisan besar itu, kami berfoto bukan untuk membuktikan bahwa kami pernah datang, melainkan untuk mengabadikan bahwa kami pernah bersama.
Gunung, kabut, dan perjalanan akan selalu berganti. Tahun demi tahun akan menghapus jejak langkah kami dari tempat itu. Namun aku tahu, suatu hari ketika Iliana telah tumbuh dewasa, foto ini akan menjadi pengingat bahwa pernah ada sore yang dingin di Selo, ketika dunia terasa begitu luas, dan keluarga terasa jauh lebih luas daripada dunia itu sendiri.