Malam itu lampu-lampu kota menggantung seperti kunang-kunang yang sedang belajar menjadi bintang. Di tengah keramaian, aku melihat anak-anak berbaris rapi di depan tokoh kartun raksasa. Mereka tersenyum dengan keyakinan yang hanya dimiliki anak-anak, keyakinan bahwa dunia selalu punya ruang untuk kegembiraan kecil.
Aku berdiri beberapa langkah di belakang mereka. Salah satu anak itu adalah Iliana. Ia mengangkat dua jarinya membentuk tanda damai, seolah sedang bernegosiasi dengan waktu agar malam tidak cepat selesai. Di usianya, kebahagiaan bisa sesederhana berfoto dengan tokoh yang bahkan tak benar-benar hidup.
Orang dewasa sering mengejar hal-hal besar hingga lupa menyimpan kenangan sederhana. Padahal bertahun-tahun nanti, mungkin yang paling melekat bukan gedung-gedung tinggi atau perjalanan jauh, melainkan satu malam biasa ketika Iliana tertawa di bawah cahaya lampu kota, dan aku diam-diam bersyukur dapat menyaksikannya tumbuh.