Rindu (lagi) Dua

Aku mengayuh pelan di jalan yang membelah sawah-sawah, seolah-olah sedang menelusuri urat nadi sebuah kenangan yang belum selesai. Tiang-tiang listrik berdiri berjajar sampai ke cakrawala, seperti pesan-pesan panjang yang tak pernah terkirim kepada seseorang yang masih menetap di dalam rinduku.

Angin sore menyentuh wajahku dengan kelembutan yang mengingatkan pada suaramu. Setiap putaran roda membawa tubuhku semakin jauh, tetapi anehnya justru membuatmu semakin dekat, seakan jalan ini bukan menuju sebuah tempat, melainkan kembali ke masa ketika rindu belum menemukan namanya.

Di ujung jalan, langit menggantung rendah di atas sawah yang hijau. Aku merasa rindu adalah desa yang tak pernah tercantum di peta: semakin keras aku berusaha meninggalkannya, semakin sering aku tanpa sadar pulang ke sana.