Rindu (lagi) Delapan

Aku duduk di bawah cahaya hijau yang tenang itu, sementara namamu berjalan-jalan di dalam kepalaku seperti hujan yang lupa berhenti. Di kota lain, kau sedang belajar baris - berbaris; di kota ini, aku sedang belajar bahwa rindu ternyata juga memiliki suasana yang tak pernah lengkap.

Lampu-lampu di dinding menyala seperti mata yang berjaga sepanjang malam. Setiap kali aku menatapnya, aku membayangkan kau sedang mencatat sesuatu dengan tekun, dan jarak di antara kita berubah menjadi lorong panjang yang dipenuhi suara langkahmu.

Maka aku menunggu, seperti pohon yang setia pada musimnya. Sebab aku tahu, setelah pelatihan itu usai, kau akan pulang membawa pengetahuan baru, sementara aku akan menyambutmu dengan rindu yang selama ini kusimpan diam-diam, tumbuh hijau dan sabar seperti daun yang tak pernah lelah menunggu pagi.