Rindu (lagi) Dua Belas

Aku membuka buku itu pada malam yang lengang, dan halaman-halamannya berdesir seperti surat yang datang dari masa depan. Di antara kata-kata tentang demokrasi dan dunia yang terus berubah, aku menemukan wajah istriku, seolah setiap huruf diam-diam sedang mengeja namanya dari tempat yang jauh.

Lampu kamar menggantungkan cahaya pucat di atas kertas, sementara waktu berjalan lambat seperti sungai tua. Aku membaca satu paragraf berulang-ulang, bukan karena sulit dipahami, melainkan karena pikiranku terus berkelana ke tempat ia berada.

Rindu ternyata mirip buku yang belum selesai kubaca. Aku menandai halaman ini untuk esok hari, tetapi yang sesungguhnya kutunggu bukan akhir babnya, melainkan kepulangan istriku, agar semua kalimat yang terasa sepi kembali menemukan maknanya.