Di bawah spanduk itu aku membaca kalimat yang sederhana: bakmi jowo Semarangan. Anehnya, yang terhidang di hadapanku bukan mi, melainkan kenanganmu yang datang mengepul seperti uap dari dapur yang tak pernah kulihat. Sejak kau berangkat, setiap warung seolah diam-diam menyimpan wajahmu di balik lampunya yang kekuningan.
Aku membayangkan di tempatmu malam juga sedang turun, mungkin dengan aba-aba yang tegas dan langkah-langkah yang seragam. Sementara aku hanya duduk menunggu semangkuk waktu matang, berharap angin yang melewati warung ini lebih dulu singgah di tempatmu, membawa kabar bahwa seseorang masih menyebut namamu dalam hati sebelum menyentuh sendok.
Barangkali rindu memang diciptakan seperti semangkuk bakmi yang tak pernah benar-benar habis. Kuahnya mendingin, kursi-kursi berganti penghuni, dan jalanan terus bergerak ke mana-mana, tetapi ada satu tempat yang tetap menunggumu pulang: hatiku, yang sejak kau pergi memilih menjadi warung kecil dengan lampu menyala sepanjang malam.