Rindu (lagi) Empat

Aku berdiri di depan bangunan kaca itu ketika senja sedang belajar menjadi malam. Jendelanya memantulkan langit yang luas, tetapi tak satu pun mampu memantulkan wajahmu. Sejak kau pergi, bahkan gedung-gedung baru pun terasa seperti reruntuhan yang dibangun di atas kenangan lama.

Orang-orang datang dan pergi melalui pintu-pintunya dengan langkah yang pasti, sementara aku tetap terjebak pada satu nama yang tak pernah selesai kuucapkan dalam hati. Waktu terus bertambah lantainya seperti bangunan ini, tetapi rinduku memilih tinggal di lantai pertama, tempat segala sesuatu bermula.

Di bawah langit yang perlahan memucat, aku mengerti bahwa rindu tidak selalu hidup di tempat yang pernah kita datangi bersama. Kadang ia menetap di tempat-tempat asing, lalu tumbuh diam-diam, sampai sebuah sore membuatku berhenti sejenak dan merasa kehilanganmu lagi.