Rindu (lagi) Enam Belas

Aku mengayuh sepeda ketika langit masih belum memutuskan apakah ia hendak menjadi pagi atau tetap tinggal sebagai malam. Jalanan memanjang seperti surat yang belum selesai kutulis, dan di setiap kayuhan aku merasa sedang mendekat kepadamu, meski kenyataannya kau sedang belajar menguatkan langkah di pelatihan.

Lampu-lampu kota perlahan padam, tetapi rinduku tidak pernah belajar cara meredup. Ia mengikuti putaran roda, menyusuri kabel-kabel listrik, menumpang angin subuh, lalu diam-diam berbaris di hadapanmu seperti seorang yang hanya memiliki satu tugas: menjaga namamu tetap hidup di dalam dadaku.

Aku akhirnya mengerti, jarak bukanlah panjang jalan yang kutempuh setiap pagi. Jarak adalah waktu yang harus kulewati sampai bisa kembali mendengar suaramu memanggilku pulang, dan untuk itu, aku akan terus mengayuh, sebab cinta selalu tahu ke mana ia harus kembali.