Rindu (lagi) Enam

Aku menonton pertandingan itu sendirian dari layar yang menggantung di dinding, sementara stadion di seberang dunia bergemuruh seperti lautan yang tak pernah tidur. Para pemain berlari mengejar bola, tetapi pikiranku berlari ke tempat lain, kepada seseorang yang dulu selalu duduk di sampingku.

Di menit-menit yang terus bergerak, sorak-sorai penonton terdengar seperti gema dari masa lalu. Aku masih bisa membayangkan suaramu menebak skor dengan keyakinan yang lucu, lalu tertawa ketika tebakan itu meleset. Kini yang tersisa hanya pantulan cahaya hijau lapangan di ruangan yang sunyi, seolah dunia sedang bermain sementara rinduku memilih berhenti.

Ketika peluit akhir nanti berbunyi, pertandingan akan selesai dan para pemain akan pulang. Hanya rinduku yang tetap bertahan di lapangan yang sama, berlari dari satu kenangan ke kenangan lain.